Pernah nggak sih lihat konten yang kelihatannya sederhana, kayak cuma ngobrol biasa, tapi justru terasa banget maknanya? Itulah gaya komunikasi yang saat ini banyak disukai Gen Z—terkesan natural, padahal sebenarnya penuh strategi. Sebagai konsultan di ID COMM, kami melihat fenomena ini sebagai bagian dari pergeseran pola konsumsi konten digital. Konten yang disukai Gen Z bukan lagi yang penuh gimmick atau terlalu ‘terkonsep’. 

Gen Z lebih memilih konten yang relate, tidak fake, dan terasa lebih emosional. Bahasa yang digunakan pun cenderung apa adanya, bukan karena asal-asalan, tapi karena memang seperti itulah cara mereka merasa dekat. Mereka lebih responsif pada gaya komunikasi yang santai dan jujur, bukan menggurui atau terlalu dibuat-buat.  

Hal ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman kolektif audiens—termasuk Gen Z—yang tumbuh di tengah pandemi. Cara mengonsumsi dan menanggapi konten sudah berubah drastis. Preferensi, nilai, dan cara pandang Gen Z terhadap informasi jauh lebih kritis dan intuitif. Mereka tahu kapan sebuah konten dibuat dengan niat tulus, atau sekadar ingin viral. Bahkan berdasarkan laporan NielsenIQ, Gen Z mengutamakan autentisitas, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan — hal-hal yang menjadi dasar kepercayaan terhadap merek. 

Tapi dari sudut pandang konsultan komunikasi, ada lapisan lain yang sering kali tidak terlihat. Walaupun kontennya tampak “natural” atau “minim effort”, di baliknya tetap ada pemikiran dan strategi komunikasi yang kompleks. Konsep ini kerap disebut sebagai “no-makeup makeup look”— konten dengan kesan effortless, padahal strategi yang diperhitungan dibelakangnya. Di sinilah letak tantangan seorang konsultan komunikasi, bagaimana mengemas konten yang kelihatan effortless, justru perlu effort besar untuk dirancang dengan tepat. Terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan, yaitu mengenali saluran komunikasi atau  channel yang tepat, memahami  bahasa dan logika visual yang sesuai dengan target sasaran, timing dan narasi yang sesuai konteks, penyampaian pesan yang tidak menggurui.  

Intinya, meskipun Gen Z menyukai yang terlihat real dan santai, bukan berarti juga bisa sembarangan. Sebaliknya, konsultan harus lebih peka, lebih kreatif, dan lebih strategis dalam memahami pola pikir audiens dan menyesuaikannya dengan tujuan brand atau isu yang dibawa. Sama seperti “no-makeup makeup look: tujuannya bukan menyembunyikan, tapi menampilkan versi terbaik secara halus dan autentik. 

Insight ini juga sempat menjadi bahan diskusi dalam salah satu sesi Think Tank Muda, forum internal ID COMM yang membahas tren komunikasi dari sudut pandang generasi muda. Para konsultan muda ID COMM melihat bagaimana pendekatan “sederhana” yang disukai Gen Z justru memerlukan perencanaan yang matang. 

 

Penulis: Anindya Pramaditta, Associate ID COMM
Editor: Dewi Bastina, Senior Account Manager ID COMM.