Merah Putih: One for All, film animasi Indonesia yang diklaim sebagai animasi pertama bertema kebangsaan, dikabarkan menelan biaya produksi sekitar Rp6,7 miliar [1]. Alih-alih menuai kebanggaan nasional, film ini justru menuai sorotan. Bukan tepuk tangan yang datang, melainkan kritik yang memicu perdebatan.
“Pengerjaan: 1 bulan. Anggaran film Merah Putih One For All: 6,7 miliar???? harus dicek ini anggarannya gede tapi hasil awikwowk” – @membuahimu [2]
“Tentang film merah putih “one for all” Terkait dana 6,7 milliar tapi kualitas hasilnya ancur ancuran” – @selalusenin [3]
Pertanyaannya: apakah Rp6,7 miliar “cukup” untuk menghasilkan film animasi yang layak tayang di bioskop?
Realitas Biaya Produksi Film Animasi
Bayangkan proses di balik layar film animasi. Dari ide di atas kertas, berkembang menjadi sketsa karakter, storyboard, hingga tokoh yang bergerak menjadi hidup. Setiap gores, warna, dan ekspresi adalah hasil kerjasama tim raksasa: penulis cerita, animator, pengisi suara, komposer musik, hingga editor. Semua harus berjalan serasi agar cerita mampu mengajak semua penonton berbicara dalam satu frekuensi yang sama.
Proses ini bukan hal yang sebentar, apalagi murah. Sutradara Hanung Bramantyo menyebutkan, biaya ideal sebuah animasi layar lebar berada di kisaran Rp30–40 miliar dengan waktu pengerjaan 4–5 tahun. Bandingkan dengan anggaran Rp6-7 miliar, jumlah yang sering dianggap ‘cukup’. Kenyataannya, dana sebesar itu hanya sanggup membawa animasi sampai tahap previs, yaitu storyboard berwarna yang digerakkan sebagai panduan animator [4].
Film animasi Indonesia lain tercatat punya biaya produksi jauh lebih besar, seperti Si Juki The Movie (2017) menelan Rp10 miliar, Nussa (2021) menghabiskan Rp25 miliar, sementara Jumbo (2025), yang kini menjadi film terlaris di Indonesia, memakan biaya produksi mencapai Rp48,8 miliar [5].
Ketika Biaya Produksi Berbicara: Kesuksesan Jumbo
Dengan investasi yang begitu besar, Jumbo bukan hanya berhasil menarik perhatian, tapi juga menyampaikan pesan lewat visual yang menggugah emosi pada para penikmatnya, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Tak sedikit penonton yang menitikan air mata karena terasa sangat relate dengan pengalaman masa kecil mereka.
Beberapa visual yang sangat detail diantaranya saat Don, pemeran utama yang selalu dipanggil “Jumbo”, berusaha membuktikan kemampuannya dengan mengikuti pentas seni di kampungnya. Visual yang memperlihatkan sosok Don di depan mic dan berada di tengah keheningan, mampu mengajak penoton merasakan keinginan Don untuk menaklukan panggung dan memenangkan pertunjukan.
Selain itu, detail kecil yang dikerjakan dengan serius juga tampak dalam adegan Don dan Nurman berdebat mengenai nama bunga matahari. Alih-alih hanya menyorot dua tokoh ini, animator tetap menghadirkan Mae sebagai penengah yang ikut menoleh dan melirik sesuai arah pembicara. Sentuhan seperti ini membuat dunia Jumbo terasa hidup, mendekati kenyataan, sehingga penonton terasa dekat dan masuk ke dalam ceritanya.
Visual Rhetoric: Kekuatan Visual Dalam Menyampaikan Pesan
Dalam ilmu komunikasi, kekuatan sebuah film terletak pada kemampuannya menghadirkan narasi yang dipercaya audiens. Narasi bukan sekadar alur cerita, melainkan pesan yang dibalut emosi, visual, dan pengalaman yang bisa dirasakan penonton. Ketika eksekusi visual tidak maksimal, pesan berisiko terdistraksi, bahkan hilang.
Jumbo berhasil karena pesannya disampaikan lewat adegan yang “berbicara sendiri”. Salah satu narasi yang sangat kuat disampaikan oleh sosok Atta, sang tokoh antagonis yang kerap mem-bully Don. Di balik sifatnya itu, Atta ternyata seorang yatim piatu, berjuang bersama kakaknya dan hidup sederhana. Ia rindu untuk diterima. Adegan yang menampilkan wajah Atta yang perlahan berubah saat masuk ke kamar nyaman Don, sukses mengajak penonton merasakan kerinduan Atta akan suasana hangat. Semua jadi kode non-verbal yang langsung dipahami penonton tanpa perlu penjelasan. Ini disebut visual rhetoric, yaitu penyampaian makna lewat simbol dan citra yang mampu membentuk persepsi audiens tanpa perlu dijelaskan secara eksplisit [6].
Sebaliknya, Merah Putih: One for All dengan anggaran terbatas membuat komunikasinya tidak maksimal. Kualitas visual yang kurang justru mengalihkan fokus dari pesan kebangsaan yang ingin disampaikan. Alih-alih menggerakkan emosi, film ini lebih banyak memancing komentar soal teknis.
Maka dari itu, jika sebuah brand ingin menggunakan film sebagai medium kampanye, harus siap dengan komitmen penuh, biaya; waktu; dan strategi. Film bukan sekadar konten di layar, tapi alat komunikasi kompleks yang hanya efektif jika dieksekusi dengan serius. Jika sumber daya terbatas, masih banyak medium komunikasi lain yang bisa digunakan tanpa harus “memaksa” masuk ke format film.
Penulis: Alifvia Aisy Kurniawan, Associate ID COMM
Editor: Dewi Bastina, Senior Account Manager ID COMM.
Sumber:
[1] https://www.instagram.com/p/DNGILCNzRnT/?img_index=1
[2]https://www.tempo.co/teroka/dilan-1990-habiskan-rp-11-miliar-targetkan-3-juta-penonton-984885
[3] https://www.inilah.com/film-termahal-di-indonesia
[5]https://www.instagram.com/p/DNNqmeFSZ5g/
[6] https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/download/454/523



